13 Juni 2026 | Dilihat: 16 Kali

Bukan Saling Menyalahkan Nakes jalan 12 Jam Demi Keselamatan Evaluasi Sistem Tidak Bisa Ditunda Lagi.

Bukan Saling Menyalahkan Nakes jalan 12 Jam Demi Keselamatan Evaluasi Sistem Tidak Bisa Ditunda Lagi.
Foto : Muhammad Amin Sekretaris Umum Forum Alumni Pimpinan Cipayung Mimika/Ketua HMI Cabang Mimika Periode 2023 - 2024.
Tabloidbnn.com.MIMIKA – Persoalan yang menimpa tenaga kesehatan (nakes) di Arwanop menjadi perhatian publik. Berbagai perdebatan muncul di media sosial, namun menurut Muhammad Amin, fokus utama seharusnya bukan mencari siapa yang salah, melainkan memastikan pelayanan kesehatan di wilayah pedalaman tetap berjalan dan keselamatan nakes terjamin.

Pada awal Mei 2026, sejumlah nakes ditugaskan ke Arwanop untuk melayani masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses kesehatan. Dalam pelaksanaan tugas, tiga nakes dilaporkan terserang malaria. Keterbatasan obat, minimnya alat pemeriksaan, dan sulitnya akses transportasi membuat mereka harus berjalan kaki sekitar 12 jam melewati sungai, hutan, dan pegunungan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Di sisi lain, pemerintah daerah menyampaikan bahwa tidak menerima informasi ataupun permintaan penjemputan sebelum perjalanan dilakukan. Perbedaan keterangan tersebut, menurut Amin, perlu dijadikan bahan evaluasi bersama, bukan alasan untuk memperpanjang polemik.

"Yang paling penting adalah bagaimana kejadian seperti ini tidak terulang. Kita perlu memperbaiki koordinasi, SOP evakuasi, dan dukungan bagi tenaga kesehatan di daerah terpencil," tegasnya.

Ia menilai pemerintah perlu membangun sistem komunikasi yang lebih efektif antara tenaga kesehatan, Dinas Kesehatan, pemerintah distrik, dan pemerintah daerah. Selain itu, tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah terisolir harus mendapat dukungan logistik, perlindungan kerja, serta apresiasi yang layak atas pengabdian mereka.

Amin juga mendorong Bupati Mimika untuk membuka ruang dialog langsung dengan tenaga kesehatan yang bersangkutan. Menurutnya, dialog yang terbuka dan berorientasi solusi jauh lebih efektif daripada mempertahankan perdebatan di ruang publik.

Pada akhirnya, masyarakat Arwanop membutuhkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, sementara tenaga kesehatan membutuhkan perlindungan dan dukungan yang memadai. Keduanya harus berjalan beriringan demi pelayanan publik yang lebih baik dan berkeadilan.

(Erwin)